Social Icons

Derita Cinta Tiada Akhir


“Derita cinta tiada akhir” kata Chu phat khai dalam film serial Sun go khong, begitulah kira-kira ilustrasi yg bisa digambarkan dari nasib teman-teman GTT dan PTT disekolah negeri, ini terjadi hampir diseluruh wilayah NKRI alias Indonesia tercinta.
Ada rasa ketidak adilan yang saya rasakan selama ini terhadap teman-teman GTT dan PTT di sekolah negeri, mengapa? Tenaga mereka sangat dibutuhkan oleh pemerintah, karena pemerintah sendiri sampai hari ini belum bisa memenuhi kebutuhan guru dan tenaga adminstrasi PNS di sekolah-sekolah negeri dengan alasan anggaran belanja negara belum mencukupi untuk menggaji guru dan tenaga administrasi PNS disekolah negeri.
Dimana ketidak adilan itu?
Pertama, program guru profesional dengan gaji tinggi yang termasuk gaji tertinggi dikalangan PNS di seluruh Indonesia secara umum, sampai sekarang belum dirasakan ada perubahan yang signifikan terhadap output yang dihasilkan dari peserta didik, guru yang pola pikir dan kinerjanya sudah buruk dari awal tetap saja tidak mau berusaha meningkatkan SDM nya, sedang gaji teman-teman GTT dan PTT rata-rata cuma 300-600 ribu perbulan, padahal mereka putra putri bangsa terbaik yang rata-rata masih muda, berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan, dan kebanyakan lulusan sarjana dari perguruan tinggi negeri.
Orang tua mereka dengan susah payah menyekolahkan sampai perguruan tinggi lulus sarjana, setelah mengabdi pada negara ini cuma mendapatkan gaji dibawah UMR kabupaten dan negara manapun juga.
Kedua, masih banyak terjadi kesewenang-wenangan guru PNS terhadap teman-teman GTT dan PTT, mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua disekolah negeri milik pemerintah, dibatasi untuk berpendapat, berpikir dan berinisiatif, yang mereka tau cuma perintah dan laksanakan, baik itu perintah dari guru PNS maupun dari kepala sekolah.
Ketiga, hanya untuk mendapatkan NUPTK saja susahnya minta ampun, bahkan tidak mungkin bagi teman-teman GTT dan PTT disekolah negeri, disisi lain pemerintah membuka kesempatan seluas-luasnya pada guru-guru swasta untuk mendapatkan NUPTK, meski dalam aturan minimal 4 tahun mengajar, namun sama-sama tau bahwa disekolah swasta seorang guru yang baru mengajar satu bulan sudah bisa mendapatkan SK mengajar 4 tahun sebelumnya, sebab yang jadi ketua yayasan bapaknya, yang jadi kepala sekolah anaknya, yang jadi guru sanak familinya. Kemarin waktu rapat asistensi dengan LPMP Jatim, saya tanyakan masalah pengajuan NUPTK bagi teman-teman GTT dan PTT di sekolah negeri, “Kenapa pemerintah berlaku tidak adil terhadap teman-teman GTT dan PTT disekolah negeri? Padahal mereka sangat dibutuhkan dilembaga tersebut? Disisi lain pemerintah membuka seluas-luasnya pada guru swasta untuk mengajukan NUPTK, anda tau siapa yang jadi ketua yayasan, kepala sekolah dan guru-gurunya?” Jawab wakil dari LPMP Jatim, “Kita hanya melaksanakan tugas, pembuat kebijakan adalah pusat kita tidak bisa berbuat apa-apa!” “Bukankah pusat dalam membuat kebijakan bottom-up, dan anda yang terjun langsung kelapangan kami minta memberi masukan pada pusat tentang masalah ini!” “”Iya pak, nanti saat rapat di Jakarta akan kami beri masukan masalah ini” “ wassalam” jawab saya.
Ke empat, GTT disekolah negeri hanya sebagai pelengkap penderita, kepala sekolah menyuruh ini itu, guru PNS ini menyuruh itu, guru PNS itu menyuruh ini, tidak ada pembagian tugas yang jelas, system tidak berjalan, Tupoksi tidak dijalankan sebagaimana mestinya, kerja siang malam, gaji cuma itu-itu juga, kecapekan jatuh sakit yang menanggung keluarganya, miris skali melihat nasib teman-teman GTT dan PTT disekolah negeri.
Semoga Allah melapangkan rizki pada teman-teman GTT dan PTT, dimudahkan segala urusannya, diberi kekuatan hati, iman dan fisik, dan semoga ilmunya jadi ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, orang lain terlebih bagi bangsa ini... amiinn ya robbal alamin...