Social Icons

Merekonstruksi Ketauhidan Nabi Ibrahim a.s.

Inti pelajaran agama terletak pada ketauhidannya. Inilah yang membedakan suatu agama dengan agama yang lainnya, atau antara orang beragama dengan yang tidak  beragama. Bahkan antar pengikut agama yang sama, di kedalaman spiritualitasnya.
Agama Islam dengan agama selain Islam misalnya, sudah pasti berbeda di dalam ketauhidannya. Islam hanya menyembah satu Tuhan, sedang agama lain bisa menyembah Tuhan yang lebih dari satu. Ataupun kalau Tuhannya satu, karakteristik Tuhan yang disembah itu berbeda.
Agama Islam mengikuti cara Ibrahim dalam bertuhan. Yakni, menyembah Tuhan yang sekaligus berada di dalam surga, berada di langit, di bumi, di hati, di akhirat, di dunia, dan bahkan meliputi apa saja yang tampak maupun tidak tampak, yang bisa disebut maupun yang tidak bisa disebut. Tuhan yang segala-galanya..!!

Untuk 'menemukan' Tuhan yang sempurna itu Ibrahim mengalami fase-fase yang krusial. Awalnya dia mengenal Tuhan patung yang disembah  oleh orang tua dan masyarakatnya sebagai pengikut agama pagan. Lantas dia melakukan perlawanan terhadap praktek penuhanan patung-patung itu karena tidak masuk diakalnya, dan menghancurkannya, sehingga diuber-uber oleh masyarakat dan penguasa.
Ketidak-puasannya terhadap tuhan patung mengantarkan dia melakukan pencarian spiritual yang sangat panjang dan menghabiskan masa mudanya. Sebuah pencarian yang tak kenal lelah dan pantang putus asa. Itulah saat-saat dia tidak mengakui tuhan agama pagan, namun belum bisa menemukan Tuhan Allah. Ia sempat tak bertuhan kepada apapun dan siapapun, alias Atheis.
Tetapi hatinya yakin, tentang adanya 'sesuatu' yang Maha Hebat itu. Sesuatu yang menguasai segala realitas di langit dan di bumi. Dan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Insting ketuhanannya membimbing Ibrahim muda untuk melakukan pencarian menggunakan akal kecerdasannya.
Bertahun-tahun Ibrahim melakukan pencarian. Dari tak mempercayai Tuhan agama pagan sampai akhirnya menemukan Tuhan yang bisa diterima oleh akal sehatnya.
Dengan semakin berkembangnya sains dan pemikiran modern, proses pencarian Tuhan itu menjadi semakin lebih kritis. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu menghinggapi benak Ibrahim sebenarnya juga berkecamuk di benak anak-anak muda masa kini. seperti :

1. Dalam bukunya 'The Grand Design' Stephen Hawking 'sibuk membuktikan' bahwa Tuhan tidak perlu campur tangan dalam proses penciptaan alam semesta.

2. Dalam bukunya 'The God Delusion' Richard Dawkins 'sibuk membuktikan' bahwa Tuhan hanyalah ilusi, dan tak perlu mendapat tempat dalam penciptaan makhluk hidup.

3. Dalam bukunya 'The End of Faith' Sam Harris 'sibuk membuktikan' bahwa agama adalah sains yang gagal, dan tak lebih hanya sebagai cerita-cerita karangan belaka.

4. Dalam bukunya 'God is not Great' Christoper Hitchens bahkan sangat 'sibuk membuktikan' bahwa agama adalah racun kemanusiaaan. Dan Tuhan tak pantas ada.

Sayangnya, banyak diantara mereka yang terjebak pada jalan yang salah dan malah menjadi atheis. Meskipun sebagiannya bisa menemukan Tuhan sebagaimana Ibrahim.
"Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang ingkar membencinya" QS.At Taubah (9):32

Lebih jauh, proses ketauhidan Ibrahim itu bukan hanya dari tidak bertuhan menjadi bertuhan, melainkan juga bergerak dari keragu-raguan akan kehebatan Tuhan menjadi keyakinan yang tak tergoyahkan. Sebuah proses keimanan yang sangat intens, dari 'ilmul yaqin menjadi 'ainul yaqin, dan berujung pada 'haqqul yaqin.
Dilevel ini Ibrahim memasuki kawasan spiritual yang sangat dalam, meninggalkan kawasan keilmuan yang sekedar berbasis rasio dan logika, dan lantas memasuki wilayah rasa dengan pembuktian-pembuktian  yang sangat halus dan terasa samar bagi orang-orang awam. Namun semua itu sangat gamblang bagi Ibrahim.
Karena itu tidak heran, dimasa tuanya, Ibrahim sampai bisa memutuskan mengorbankan anak kesayangannya Ismail, meskipun Allah memberikan perintah itu lewat mimpi. Sebuah informasi yang sangat samar bagi orang awam, tetapi sedemikian meyakinkan bagi seorang Ibrahim. Dan memang kemudian terbukti bahwa keputusannya itu benar, bahwa semua itu dari Tuhan.
Dipetik dari Mukaddimah Agus Mustofa dalam bukunya Ibrahim pernah Atheis